6 Februari 2012

Arjuna dan Karna dalam Novel


Novel yang berjudul ‘Pertempuran 2 Pemanah Arjuna-Karna’ ini ditulis oleh Pitoyo Amrih, seorang maniak wayang. Cukup tebal, 426 halaman dan diterbitakn oleh Diva Press. Banyak novelnya yang berceritakan wayang, salah satunya ini dan The Darkness of Gatotkaca yang sukses kami transfer menjadi sebuah drama performance.

Jujur saja, sejak terlibat dalam drama wayang semester kemarin, saya mendadak jatuh cinta sama wayang. Tokohnya, jalan ceritanya, tema, konflik, sampai nama dalam pewayangan itu sendiri. Keren banget!
Kembali ke novel,
Novel ini berkisah tentang dua pemanah hebat dalam pewayangan, Arjuna dan Karna. Dua orang yang sebenarnya saudara kendung seibu.
Arjuna adalah anak dari Dewi Kunti dan Pandu, memiliki ketampanan luar biasa, kesatria sejati, dan tidak bisa menolak wanita! I really hate this part. Arjuna suka melanglang buana kemanapun, mencari ilmu dan kesaktian. Namun, dimanapun dia berada, selalu punya istri baru.
Karna adalah anak dari Dewi Kunti dan Dewa Surya. Sejak kecil sudah dibuang karena peranakan manusia dan dewa adalah aib bagi bangsa dewa. Karena keturunan dewa, Karna dianugerahi kemampuan luar biasa sejak lahir maka dari itu, nasib yang menggiringnya dibesarkan oleh seorang kusir menjadikan ia seseorang yang mendendam. Mengapa aku dan hidupku seperti ini? mungkin pertanyaan ini yang selalu menggelantung di hati Karna. Dan Karna adalah seorang yang begitu setia pada satu wanita, istrinya Cuma satu sampai mati, Dewi Surtikanti.
Novel ini mengangkat cerita yang menarik (cerita wayang memang selalu menarik). Namun, kalau boleh berpendapat, novel ini terlalu banyak mengulang kalimat informasi. Jujur saya jadi bosan membaca informasi sama yang terus diulang di setiap bagian. Terlalu banyak tokoh yangt disebutkan sampai saya bingung, hehe. Ya, memang tokoh wayang itu berjuta banyaknya dan saling berkaitan satu sama lain. Namun, untuk lebih fokusnya sedikit tokoh akan membuat novel ini lebih dalam.
Overall, novel ini sangat menarik dalam tema dan settingnya.
Berikut adalah beberapa quotes dari novel tersebut:
Salah dan benar terkadang hanya dipisahkan oleh sesuatu yang tak pernah ada, Raden. (Dialog Resi Hanoman kepada Gatotkaca)
Cinta seharusnya adalah sebuah ujung perasaan. (Dialog Wara Sumbadra, istri pertama Arjuna)
Tapi aneh, semakin saya membenci apa yang saya dengar tentang Kangmas Arjuna yang selalu saja menyetujui setiap wanita yang ingin menjadi istrinya, semakin saya merasa untuk harus memahaminya. (Wara Sumbadra)
Terkadang saya merasa sakit justru ketika Kangmas Arjuna diam. (Wara Sumbadra)
Bisakah nilai sejati seorang pria dinilai dari raut wajah istrinya? (Semar)

0 komentar:

Poskan Komentar